Asma dan kawan2…

BAB I

PEMBAHASAN

Bangsa Arab mempunyai kebiasaan menyapa satu sama lain dalam berbagai cara. Cara pertama adalah memanggil orang dengan namanya, cara kedua dengan merujuk gelarnya, dan cara ketiga menyapa orang dengan julukannya. Namun sebelum lebih jauh kita membahas tentang ketiganya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu tentang makna dan pengertiannya secara singkat, sebagai dasar dan acuan kita dalam pembahasan yang lebih lanjut tentang Asma, Kunyah, Laqab.

  1. A. PENGERTIAN ASMA, KUNYAH, DAN LAQAB

1. ASMA

Asma merupakan suatu nama yang memang telah berikan kepada seseorang sebagai dasar untuk pengenal dirinya kepada orang lain. Juga dapat dikatakan adalah merupakan nama aslinya, tanpa di kaitkan dengan nasab atau keistimewaannya.

2. KUNYAH

Kunyah yang artinya “menyebut sesuatu dengan suatu sikap tertentu.” Karena alasan inilah, dalam tatabahasa Arab, kata-kata tersebut digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disebut kinayah. Penduduk Basrah biasa menyebut pronoun sebagai kinayah. Ketika seseorang tidak ingin menggunakan nama dari orang yang tengah ia ajak bicara, maka ia gunakan suatu julukan ketika berbicara dengannya.[1] Yang ringkasnya bahwa Kunyah adalah suatu julukan yang diberikan kepada seseorang.

3. LAQAB

Laqab merupakan suatu gelar yang di berikan kepada seseorang karena suatu hal yang berkenaan dengan dirinya.

  1. B. KARAKTERISTIK ASMA, KUNYAH DAN LAQAB
  2. 1. ASMA

Karakteristik dari Asma ialah merupakan suatu nama yang memang telah di berikan atau telah di tetapkan sejak kehadirannya, Sebagai suatu contoh : Al-Muththalib dan Hasyim, adalah dua putra kandung Abdu Manaf yang saling bersahabat. Persahabatan mereka itu berlanjut pada anak-anah mereka berdua. Kepada al-Muththalib inilah disandarkan al-Muththalib, kakek Nabi saw, dalam sebuah kisah yang dipaparkan oleh Ibn Ishaq dan yang lainnya yang ringkasnya adalah bahwa Hasim bin Abdu Manaf menikah dengan seorang wanita penduduk Madinah dari suku Khazraj, kemudian lahirlah Syaibah al-Hamd, lalu ia ikut ibunya sedang Hasim keluar ke negeri Syam sebagai pedagang, lalu meninggal di Ghazah. Setelah itu al-Muththalib datang ke Madinah, disana dia menemukan Syaibah al-Hamd telah tumbuh besar, maka diapun membawanya ke Mekah dan masuk ke kelompoknya. Maka sebagian orangpun mengatakan : Ini adalah Abdul Muthalib (budak Muthathalib),  lalu nama itu menjadi dominal padanya.[2]

  1. 2. KUNYAH

Karakteristik dari Kunyah ialah seseorang menyinggungnya orang itu melalui ayahnya, ibunya, atau anaknya dan menggunakan kata-kata seperti “Abu,” “Ummi,” atau “Ibnu,”. Kata-kata tersebut disebut “kuniyah.” Pada umumnya, ini disebabkan nama-nama ayah atau leluhur terkait dengan nama seseorang.[3] Sebagai contoh : Telah di-takhrij-kan oleh al-Hakim dari jalan al-Maimuniy : saya pernah mendengar Ahmad bin Hanbal berkata kepada Abu Utsman bin asy – Syafi’i : Saya sungguh mencintaimu karena tiga hal : Karena Anda putra Abu Abdillah (maksudnya asy-Syafi’i) dan karena Anda dari golongan Ahlusunnah.[4] Dalam contoh lain ialah Imam Husain as mempunyai kuniyah (julukan) yang menarik, Abu Abdillah. Julukan ini artinya, “Ayah Abdullah. sementara julukannya (yang dinisbatkan kepada ayah, ibu atau anak) adalah Abul Hasan, atau Abul Hasanain.

  1. 3. LAQAB

Adapun karakteristik dari Laqab ialah dengan nama yang di nisbat-kan pada keistimewaannya, sebagai contoh Imam Ali as, laqab (gelar)nya adalah “Asadullah,” “Haidar,” Demikian halnya Imam Husain gelarnya banyak, misalnya, asy-syahid as-sa’id, as-sibth ats-tsani (cucu kedua), imamuts tsalits (imam ketiga), ar-rasyid (orang yang lurus), al-wali as-sayyid (pemimpin Sayid), “orang yang mengikuti kehendak Allah dan bukti-Nya.” Dalam contoh lain adalah asy-Syafi’I, di Mekkah dia disebut sebgai seorang penolong hadits.

  1. C. ANALISIS PENULIS

Sebenarnya pemanggilan kepada seseorang dengan menggunakan julukan atau gelarnya merupakan suatu penghormatan kepadanya sebagaimana Seorang penyair berkata: Ketika aku memanggilnya, aku menyapanya dengan julukannya sehingga aku bisa menghormatinya, Dan ketika aku tidak memanggilnya dengan gelarnya karena itu dipandang tidak hormat.

Terkadang kuniyah seseorang akan menjadi lebih populer daripada nama sebenarnya. Banyak kuniyah dari seseorang yang dipilih berdasarkan karakteristik keistimewa yang terdapat padanya. Misalnya, umum diketahui bahwa Nabi saw memiliki kuniyah Abul Qasim. Ini disebabkan bahwa telah dikatakan tentangnya, “Beliau disebut sebagai Abul Qasim karena pada hari Kiamat ia akan membagi-bagikan (qasama) surga.”

Tipe-tipe kuniyah dan gelar tersebut sangat lumrah di kalangan bangsa Arab era awal. Misalnya, jika keberanian dan kegagahan dari sejumlah orang tertentu didiskusikan, maka akan dikatakan, “Aku melihat seekor singa di antara mereka.”
Atau jika kemurahhatian seseorang disebutkan, maka dikatakan, “Si fulan ayah dari kemurahhatian.”

Sebagai akhir dari pemaparan makalah saya sedikitnya saya ingin mengangkat hadits dari Imam Ridha as yang berkata, “Apabila engkau berbicara dengan seseorang sementara ia di hadapanmu, maka gunakanlah (nama) julukannya. Sementara, jika engkau berbincang dengan seseorang yang tidak ada di depanmu, maka sebutlah ia dengan nama (asli)nya.” (Biharul Anwar, juz.78, hal.335)

Adapun sebenarnya pemanggilan dengan kunyah seseorang sangat di anjurkan tanpa membeda-bedakan status sosial sebagai contoh di masa pemerintahan khalifah kedua, ketika seseorang melakukan tuduhan terhadap diri Amirul Mukminin Ali dan ketika Imam Ali didatangkan ke hadapan khalifah, khalifah pun memanggil Abul Hasan untuk Imam Ali as. Kontan, Amirul Mukminin Ali keberatan dan berkata, “Keadilan harus ditegakkan di meja peradilan. Adalah bertentangan dengan keadilan ketika Anda menyebut saya dengan kuniyahku, sementara engkau menyapa orang lain dengan namanya.”

Hal ini merupakan suatu bukti tentang betapa tingginya budi dan Ahlak yang di contohkan langsung oleh Rasulullah Muhammad saw, dan para sahabatnya, yang merupakan suatu teladan yang patut di di junjung tinggi serta di coba untuk di realisasikan dalam kehidupan kita. Namun sesungguhnya bukan saja orang yang berahlak yang mendapatkan tempat di sisi Allah, akan tetapi orang-orang berilmupun diangkat beberapa derajatnya, sebagaimana Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحْ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعْ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahuai apa yang kamu kerjakan”.

Islam merupakan Agama pembawa keselamatan dan kesejahtraan, diantara target yang mendasar dalam ajaran Islam ialah terciptanya generasi-generasi baru yang mempunyai budi pekerti yang baik serta berahlak mulia, sebagaimana sabda rasullah saw:

: “… Akrabilah anak-anakmu dan didiklah akhlak mereka.” (HR. Ibnu Abas)

Hal ini sebagai bukti bahwa Rasulullah pun sangat menganjurkan untuk berbudi pekerti, Bahkan seorang  Penyair besar Syauqi pernah menulis: Sesungguhnya kejayaan suatu umat (bangsa) terletak pada akhlaknya selagi mereka berakhlak/berbudi perangai utama, jika pada mereka telah hilang akhlaknya, maka jatuhlah umat (bangsa) ini.

BAB II

SKEMA

BAB III

KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa :

Asma merupakan suatu nama yang memang telah berikan kepada seseorang sebagai dasar untuk pengenal dirinya kepada orang lain. Juga dapat dikatakan adalah merupakan nama aslinya, tanpa di kaitkan dengan nasab atau keistimewaannya. Kunyah yang artinya “menyebut sesuatu dengan suatu sikap tertentu.” Laqab merupakan suatu gelar yang di berikan kepada seseorang karena suatu hal yang berkenaan dengan dirinya.

Adapun karakteristik dari Kunyah adalah seseorang menyinggungnya orang itu melalui ayahnya, ibunya, atau anaknya dan menggunakan kata-kata seperti “Abu,” “Ummi,” atau “Ibnu”. Sedangkan karakteristik dari Laqab ialah dengan nama yang di nisbat-kan pada keistimewaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Manaqib Imama Syafi’I, Cet. I; Jakarta: CV. Cendekia Sentra Muslim, 2001.

Fathurrahim, Fauzi, Tafsir Atas Julukan “Abu Abdillah” Imam Husain As, (online) http:// www.Icc-Jakarta.Com/ 2007/27. di akses 29 Maret 2010

Mughny, Aha, Metode Pengenalan Nama-Nama Dan Kuniyah Periwayat Hadits, (online), http://ahamughny.wordpress.com/2010/08. di akses 29 Maret 2010


[1] www.almuntazar.com,Metode Pengenalan Nama-Nama Dan Kuniyah Periwayat Hadits,jumat, 02 Januari 2009 23:12

[2]Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani, Manaqib Imam Syafi’i. h. 20

[3] www.icc-jakarta.com.Tafsir Atas Julukan “Abu Abdillah” Imam Husain As.Desember 27, 2007

[4] Ibid.

Psikolinguistik

Resume Psikolinguistik Oleh : Zubair Ahmad بِسْــــــــمِ اللـــــــــهِ الرَ حْمَـــــــنِ الرَ حِيْـــــــمِ …….       …….. dan berbicaralah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. 1. PENGERTIAN Terdapat beberapa batasan psikolinguistik menurut beberapa ahli. Hartley mengatakan psikolinguistik membahas hubungan antara bahasa dengan otak dalam memproses dan menghasilkan ujaran-ujaran dan dalam akuisisi bahasa. Batasan lain dikemukakan oleh Osgood dan Sebeok yang mengatakan bahwa psikolinguistik secara langsung berhubungan dengan proses-proses mengkode dan mengerti kode seperti pesan yang disampaikan oleh orang yang berkomunikasi. Adapun Robert Lado mengatakan bahwa psikolingustik adalah pendekatan gabungan melalui psikologi dan linguistik bagi telaah atau studi pengetahuan bahasa. Emmon Bach berpendapat bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti sebenarnya bagaimana para pembicara/pemakai sesuatu bahasa membentuk atau mengerti kalimat-kalimat bahasa tersebut. Langacker mengemukakan pendapatnya bahwa psikolingustik merupakan telaah akuisisi bahasa dan tingkah laku linguistik terutama mekanisme psikologis yang bertanggung jawab atas kedua aspek tersebut. Diebold berpendapat psikolinguistik dalam arti luas membicarakan pesan-pesan dengan sifat-sifat kemandirian manusia yang menyeleksi dan dan menafsirkan pesan-pesan. Paul Paraisse berpendapat bahwa psikolinguistik merupakan telaah tentang kebutuhan-kebutuhan tuhan kita untuk berekspresi denan benda-benda yang ditawarkan kepada kita sejak kecil dan tahap-tahap selanjutnya. Berdasarkan uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa : 1. Psikolinguistik membahas hubungan bahasa dan otak 2. Psikolinguistik berhubungan langsung dengan proses mengkode dan menafsirkan kode 3. Psikolinguistik sebagai pendekatan 4. Psikolinguistik menelaah pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa dan perubahan bahasa 5. Psikolinguistik membicarakan proses yang terjadi kepada pembicara dan pendengar dalam kaitanya terhadap bahasa 6. Psikolinguistik menitikbertatkan kepada pada pembahasan akuisi dan tingkah laku linguistik. 2. SEJARAH PSIKOLINGUISTIK Pada sekitar tahun 1950 George Miller dan Charles Osgood memunculkan ilmu baru dalam linguistik yang dikaitkan dengan studi bahasa secara psikologis. Pada tahun 1951 dilaksanakan suaatu seminara di universitas cornell yang disponsori oleh Social Science Reesearch Council (SSRC) mengundang enam orang ahli dalam bidang Psikologi dan linguistic, meraka diundang untuk membahas disiplin ilmu psikologi dan linguistik, John Carrol, James Jenkins, George Miller dan Charles Osgood dalam bidang psikologi, dan Joseph Greensberg, Floyd Lounsbury dan Thomas Sebeok dalam bidang linguistik. Pada tahun 1953 bersama-sama dengan peneliti lainnya dan 5 orang mahasiswa, mengadakan pertemuan di beberapa kota dan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan psikolinguistik. Misalnya psikolinguistik bandingan, kedwibahasaan, analisis isi, prosesasosiasi dalam tingkah laku verbal, dimensi-dimensi makna, gaya bahasa, apasia, dan keuniversalan bahasa. Dari tahun ke tahun psikolinguistik mengalami kemajuan berkat penelitian para ahli yang berkecimpung dalam bidang ini. Meskipun penelitian dalam bidang psikolinguistik banyak dipengaruhi oleh generativisme akhir-akhir ini, “tetapi adalah keliru kalau dikatakan semua psikolinguis telah mengakui kebenaran model generatif dalam system bahasa” . 3. OBJEK PSIKOLINGUISTIK Perlu kita ketahui bersama bahwa psikolinguistik terdiri dari dua disiplin ilmu, yaitu; linguistik dan psikologi. Objek linguistik adalah bahasa. Sedangkan objek psikologi adalah gejolak jiwa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa objek psikolinguistik adalah bahasa juga, tetapi bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dalam gejolak jiwa. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspek-aspek psikologi. Orang yang sedang marah akan lain perwujudan bahasanya dengan orang yang sedang gembira ria, titik berat psikolinguistik adalah dari segi bahasa yang diucapkan, dan bukan gejala jiwa. Itu sebabnya dalam batasan-batasan psikolinguistik yang telah dikemukakan selalu ditonjolkan proses bahasa yang terjadi pada otak. Baik proses yang terjadi di otak pembicara maupun proses yang terjadi di otak pendengar. Hasil pekerjaan Psikolinguistik bukanlah perian bahasa, tetapi deskripsi bahasa yang berproses dalam diri manusia. Proses ini jelas tidak kelihatan, dan hanya hasil prose situ yang dapat diamati. 4. LINGKUPAN PSIKOLINGUISTIK Bila kita mencoba menganalisis objek linguistik dan objek psikologi, dan titik berat kajian psikolinguistik, dapat ditarik kesimpulan bahwa ruang ruang lingkup psikolinguistik mencoba memberikan bahasa dilihat dari aspek-aspek psikologi dan sejauh yang dapat dipikirkan oleh manusia. Itu sebabnya topik-topik penting yang menjadi lingkupan psikolinguistik, adalah; • Proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran • Akuisisi bahasa • Pola tingkah laku berbahasa • Asosiasi verbal dan persoalan makna • Proses bahasa pada anak yang abnormal, misalnya pada anak tuli • Persepsi ujaran dan kognisi. A. kedudukan Psikolinguistik dengan Ilmu Lain Setiap ilmu berdiri sendiri. Namun dalam operasionalnya setip ilmu tidak berdiri sendiri. Biasanya manusia menyelesaikan sesuatu dengan menggunakan beberapa cabang ilmu.Dengan kata lain terdapat hubungan suatu ilmu dengan ilmu yang lain.: B. Psikolinguistik Dewasa Ini Dewasa ini psikolinguistik lebihdiarahkan untuk pendidikan bahasa, peranan psikolinguistik dalam pengajaran bahasa bukan hanya berhubungan dengan akuisisi bahasa, tetapi juga untuk kepentingan belajar bahasa pertama, kedua, dan bahasa asing. 5. ASPEK-ASPEK LINGUISTIK DAN PSIKOLINGUISTIK A. Pendekatan Bahasa dapat dkilihat dari pendekatan, bahasa sebagai suatu sitem, bahasa sebagai tingkah laku personal, bahasa sebagai tingkah laku antar personal. Bahasa merupakan suatu system mengisyaratkan adanya suatu kaiodah yang mengatur bahasa, kaidah bahasa tertentu tercarmin dalam tatarannya. Kalidah-kaidah itu tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan seperangkat unsur yang jalin menjalin yang membentuk sistem. Langacker mengatakan “linnguistik adalah studi bahasa manusia”, sedangklan Lyons berpendapat bahwa “linguistik adalah studi bahasa secara ilmiah, dari pengertian ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa objek linguistik adalah bahasa. Menurut Hill cirri bahasa itu ialah: • Bahasa merupakan seperangkat bunyi • Bahasa bersifat sistematis • Bahasa merupakan seperangkat symbol • Bahasa bersifat sempurna Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa digunakan untuk mengungkapkan pikiran. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu kemudian ingin menyampaikan hasil pemikiran itu, menggunakan bahasa, meskipun demikian akan muncul beberapa pertanyaan, bagaimana hubungan bahasa dan pikiran, dapatkah kita be4rpikir tanpa bahasa, bagaimana proises berpikir itu, apakah pikiran kita dipolakan oleh struktur bahasa yang digunakan, dan bagaimana caranya agar hasil pikiran dapat dimengerti oleh pendengar. Diantara pertanyaan ini ada beberapa pertanyaan yang tidak dapat kita jawab, diantaranya bagaimana proses berpikir itu terjadi didalam otak. Langacker mengatakan “berpikir adalah aktivitas mental manusia”. Aktivitas mewntal ini berlangsungt apabila ada stimulus, artinya ada sesuatu yang mengakibatkan manusia untuk berpikir. Memang ada saja yang dipikiran oleh manusia, namun ada bauiknya kita membedakan pengertian berpikir dan melamun. Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, menganalisnya dari yang umum kehal-hal yang khusus atau kita menganalisisnya dari hal-hal yang khusus ke yang umum. Floyd L Ruch berpendapat bahwa berfikir adalah manifulasi-manufulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan mengunakan lambing-lambang sehingga tidak langsung melakukan kegiatan yang tampak. Dance mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behaviorisme sebagai usaha menimbulkan respon melalui lambing-lambang verbal. Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia Id, Ego, dan Supergo. Id adalah badian kepribadian manusia yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia (hawa nafsu). Id bergerak atas prinsip kesenangan, ingin segera memenuhi kebutuhan, Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Walaupun Id dapat melahirkan keinginan, ia tidak mampu memkuaskan keinginannya. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntunan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional. Sedangkan Superego adalah polisi kepribadian, mewakili yang ideal. Superego adalah hati nurani yang merupakan interanalisis dan norma-norma sosial dan kultural masarakat. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak berlainan ke dalam alam bawah sadar. Emosi dan perasaan merupakan aspek yang paling penting bagi kehidupan manusia, sangatlah sulit membayangkan manusia tanpa emosi, hampa perasaan. Kebahagiaan ketika menatap senyuman orang yang kita cintai, keceriaan ketika bermain dengan seseorang yang kita bayangkan, kebanggaan ketika menjuarai suatu kompetisi. Bahkan perasaan yang sangat menyedihkan ketika sahabat seorang sahabat meninggal, kecewa ketika gagal, marah ketika hati dilukai tetap memberi arti bagi kita. Emosi memberi tahu siapa kita, seperti apa kualita hubungan kita dengan seseorang, dan bagaimana kita berprilaku selama ini dan bagaimana cara kita berprilaku esok hari. Emosi memberi makna akan setiap peristiwa yang kita alami dan warna dalam kehidupan ini. Setiapa manusia memiliki emosi, memberinya identitas dan harus selalu belajar beradaftasi serta dapat mengontrol emosinya. Bila kita mengkaitkan emosi dengan individu maka kita berbicara mengenai variyasi pada setiap orang. Bagaimana kita mendevinisikan emosi, seberapa penting kita memendangnya, bagaimana kita mengelolanya, merasakannya, menerimanya dan mengexpresikanya maka setiap orang adalah berbeda dan unik. DASAR REPERENSI Jalaludin Rakhmat, “Psikologi komunikasi” Mansur Pateda “Psikolinguistik” Tri Dayakismi “Psikologi Lintas Budaya”

TARIKH LUGAH AL- ARABIYAH (PERIODE)

PERIODE-PERIODE PERKEMBANGAN

ILMU BAHASA ARAB

Di Persembahkan Pada Mata Kuliah Tarikh Adab

Dosen Pengampuh

Damhuri M.Ag

OLEH

ZUBAIR AHMAD

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI(IAIN)

SULTAN AMAI GORONTALO

2010


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkankan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia (Ghazzawi, 1992). Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara.[1] Sejak bahasa Arab yang tertuang di dalam Al-Qur’an didengungkan hingga kini, semua pengamat baik barat maupun oorang muslim Arab menganggapnya sebagai bahasa yang memiliki standar ketinggian dan keelokan lingguistik yang tertinggi, yang tiada taranya.[2]

Namun terlepas dari hal tersebut kita perlu mengetahui sejarah perkembangan bahasa Arab, tentang periode-periode perkembangan bahasa Arab. Suatu rentang waktu perjalanan bahasa Arab, tentang kemunduran serta kebangkitan kembali bahasa Arab. Selanjutnya kita harus mengetahui ilmu-ilmu yang lahir dalam perjalanan dan petualangan bahasa Arab menjelajahi pergantian periode-periode di tengah-tengah percampuran bahasa dan budaya.

Lebih lanjut lagi penulis ingin menyentil sedikit tentang perkembangan sastra Arab pada berbagai periode perkembangannya. Tentang ilmu-ilmu yang telah ada pada periode-periode perkembangannya.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari uraian singkat di atas penulis mengangkat beberapa permasalahan yang akan dibahas :

  1. Apa saja periode-periode perkembangan bahasa Arab
  2. Ilmu-ilmu apa yang lahir dari pergantian periode-periode

BAB II

PEMBAHASAN

Para ahli bahasa mengelompokkan bahasa-bahasa menjadi beberapa rumpun, Max Muller membaginya menjadi tiga rumpun ; yaitu indo-eropa, semit hemit dan turania. Bahasa arab merupakan salah satu dari bahasa semit. Imil Badi’ Ya’qup membagi bahasa semit kepada bahasa timur, yang meliputi bahasa-bahasa Asyiria-Babionia dan bahasa-bahasa barat terdiri Aramiyah, Kan’aniyah dan Arabiyah. Kedatangan Islam mempercepat proses penyatuan bahasa Arab, disamping juga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan dan mental bahasa Arab.

  1. A. Periode-periode Perkembangan Bahasa Arab

Dalam sejarah perkembangan bahasa Arab, dapat di klasifikasikan ke dalam beberapa periode, antara lain :

  1. Periode Jahiliyah. Periode ini munculnya nilai-nilai standarisari pembentukan bahasa arab fusha, dengan adanya beberapa kegiatan penting yang telah menjadi tradisi masyarakat Mekah. Kegiatan tersebut berupa festifal syair-syair arab yang diadakan di pasar Ukaz, Majanah, Zul Majah. yang akhirnya mendorong tersiar dan meluasnya bahasa arab, yang pada akhirnya kegiatan tersebut dapat membentuk stsndarisasi bahasa arab fusha dan kesusasteraannya.[3]
  2. Periode Permulaan Islam. Turunnya Al-Quran dengan membawa kosa kata baru dengan jumlah yang sangat luar biasa banyaknya menjadikan bahasa Arab sebagai suatu bahasa yang telah sempurna baik dalam mufradat, makna, gramatikal dan ilmu –ilmu lainnya. Adanya perluasan wilayah-wilayah kekuasaan islam sampai berdirinya daulah umayah. Setelah berkembang kekuasaan Islam, maka orang-orang islam arab pindah ke negeri baru, sampai masa Khulafaa Al-Al-Rasyidiin
  3. Periode bani Umayah. Terjadinya percampuran orang-orang arab dengan penduduk asli akibat adanya perluasan wilayah islam. Adanya upaya-upaya orang arab untuk menyebarkan bahasa arab ke wilayah melalui akspansi yang beradab. Melakukan arabisasi dalam berbagai kehidupan, sehingga penduduk asli mempelajari bahasa arab sebagai bahasa agama dan pergaulan. Pada mulanya bahasa Arab dapat bertahan dengan kuat terhadap kemunduran yang mulai terasa pada akhir-akhir masa Bani Umayyah, karena tampuk pemerintahan, seperti jabatan panglima-panglima, gubernur-gubernur dan kedudukan penting lainnya masih dipegang oleh orang Arab, yang bahasanya tetap bahasa (fasih) murni dan bermutu, di tambah pula mereka sangat fanatik terhadap bangsa dan bahasanya.

Dimasa itu seorang pemimpin yang menyimpang dari tata bahasa yang fasih walaupun sedikit saja sudah dianggap rendah dan hina. Tiap-tiap pemimpin, baik dia pemimpin politik maupun pemimpin perang atau pemimpin sosial, semenjak dari khalifah sampai kepala daerah, adalah orang-orang yang ahli dalam bahasa. Kefasihan dan ketinggian mutu bahasa ini bukan saja dimiliki oleh para pemimpin, tetapi juga dimiliki umumnya bangsa Arab, karena perasaan bangga terhadap keturunan dan nasab serta perasaan bahwa mereka adalah golongan yang tertinggi dan teristimewa, semangat mendalam dalam jiwa mereka (meskipun prinsip ini bertentangan dengan agama Islam) sehingga mereka enggan bergaul dengan orang yang bukan bangsa Arab dan merasa rendah bila ikut bekerja bersama-sama orang ‘ajam (bukan orang Arab).

  1. Periode bani Abasiyah. Pemerintahan Abasiyah berkeyakinan bahwa kejayaan pemerintahannya dapat bertahan bila bergantung kepada kemajuan agama islam dan bahasa arab, kemajuan agama islam dipertahankan dengan cara melaksanakan kegiatan pembedahan Al-Quran terhadap cabang-cabang disiplin ilmu pengetahuan baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Bahasa Arab Baduwi yang bersifat alamiah tetap dipertahankan dan dipandang sebagai bahasa yang bermutu tinggi dan murni yang harus dikuasai oleh putra-putra bani Abas. Pada abad ke empat H bahasa arab fusha sudah menjadi bahasa tulisan untuk keperluan administrasi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan bahas Arab mulai dipelajari melalui buku-buku ,sehingga bahasa fusha berkembang dan meluas. Namun dengan berdirinya kerajaan Bani Abbas dapat dikatakan karena bantuan dari orang-orang Persia, terutama atas bantuan Abu Muslim Al-Khurasani, maka sebagai balas jasa, diserahkanlah kepada mereka beberapa jabatan yang penting dalam Negara. Dan dengan berangsur-angsur bertambah banyaklah diantara mereka yang menduduki posisi-posisi yang tinggi seperti gubernur, panglima dan menteri.

Akhirnya tidak sampai satu abad semenjak berdirinya kerajaan Bani Abbas, semua kedudukan yang penting, kecuali pangkat khalifah telah dipegang orang Persia. Oleh karena orang yang memegang kekuasaan bukan orang Arab lagi, maka hilanglah perasaan bangga terhadap nasab dan keturunan, atau perasaan bahwa mereka adalah golongan yang tinggi dan mulia. Dengan ber-asimilasinya orang-orang Arab kedalam masyarakat orang Persia mulailah bahasa Arab mengalami kemunduran. Apalagi pemimpin-pemimpin yang berkuasa bukan orang Arab. Sehingga timbullah suatu bahasa pasar yang tidak dapat dianggap sebagai bahasa Arab yang murni.

Hal ini menimbulkan kesadaran para ulama dan ahli bahasa Arab, sehingga mereka bangun serentak untuk mempertahankan bahasa Arab dari keruntuhannya. Dengan rusaknya bahasa Arab tentu tidak akan ada lagi yang dapat memahami Al-Qur’an Al-Karim, sedangkan Al-Qur’an itu adalah kitab suci yang harus selalu dipelihara dan diselidiki isi dan maknanya. Karena itu mereka merasa bahwa diatas pundak merekalah terletak kewajiban untuk memelihara Al-Qur’an dengan jalan mempertahankan kemurnian bahasa Arab.

Untuk itu mereka mulai mengarang ilmu Nahwu atau Gramtika bahasa Arab agar bahasa Arab dapat dipelajari dengan baik oleh umat yang tidak berbahasa Arab, sehingga mereka terhindar dari kesalah-kesalahan pengucapan dan dapat membaca dengan fasih.

Mereka pula menyusun ilmu Balaghah yang mencakup ilmu Bayan, Ma’ani dan Badi’ untuk menjelaskan keistimewaan dan keindahan susunan bahasa dan segi-segi bahasa Al Qur’an. Ilmu ini disusun setelah selesai mengarang Nahwu dan Sharaf. Untuk memelihara pengertian kata-kata dalam Al-Qur’an mereka mengarang kamus bahasa Arab

  1. Priode ke lima. Sesudah abad ke 5 H bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa politik dan adminisrasi pemerintahan, tetapi hanya menjadi bahasa agama. Hal ini terjadi setelah dunia arab terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non arab “ Bani Saljuk” yang mendeklarasikan bahasa Persia sebagai bahasa resmi negara islam dibagian timur, sementara Turki Usmani yang menguasai dunia arab yang lainnya mendeklarasikan bahwa bahasa Turki sebagai bahasa administrasi pemerintahan. Sejak saat itu sampai abad ke7 H bahasa Arab semakin terdesak.
  2. Priode bahasa arab di zaman baru. Bahasa arab bangkit kembali yang dilandasi adanya upaya-upaya pengembangan dari kaum intelektual Mesir yang mendapat pengaruh dari golongan intelektual Eropa yang datang bersama serbuan Napoleon. Maka dijadikanlah Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar disekolah, Waktu-waktu perkuliahan disampaikan dengan bahasa Arab. Munculnya gerakan menghidupkan warisan budaya lama dan menghidupkan penggunaan kosakata asli yang berasal dari bahasa fusha. Adanya gerakan yang telah berhasil mendorong penerbit dan percetakan dinegara-negara arab untuk mencetak kembali buku-buku sastra arab dari segala zaman dalam jumlah yang sangat besar dan berhasil pula menerbitkan buku-buku dan kamus bahasa arab. Munculnya kesadaran dari intelektual Arab yang mempertahankan bahasa Arab dari berbagai kritikan terhadap bahasa arab yang datang dari non Arab atau dari orang Arab sendiri untuk mempertahankan bahasa Arab, tidak hanya sebagai bahasa agama, melainkan sebagai bahasa nasional dan diwujudkan melalui :
    1. Adanya usaha-usaha pembinaan dan pengembangan bahasa arab seperti Majma’ al lughah al-arabiyyah th 1934 di Mesir. Tujuannya untuk memelihara keutuhan dan kemurnian bahasa fusha dan melakukan usaha – usaha pengenbangan agar menjadi bahasa yang dinamis, maju dan mampu memenuhi tuntutan kemajuan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.
    2. Mendirikan lembaga pendidikan khususnya pengajaran bahasa arab seperti Al -Azhar jurusan bahasa arab. Perhatian bangsa arab tidak hanya terjadi di Mesir tetapi terjadi pula di negara arab lainnya.[4]
    3. B. Ilmu-Ilmu Bahasa Arab Yang Lahir Dari Pergejelokan Periode
      1. Nahwu dan Sharaf

Ilmu Sharaf induk segala ilmu, dan ilmu nahwu bapaknya.[5] Ilmu Nawu dan Sharaf di karang pada periode Abasiyah dengan berdasarkan alasan bahwa telah terjadi berbagai kesalahan dalam kaidah-kaidah bahasa Arab, dengan harapan agar bahasa Arab dapat dipelajari dengan baik oleh umat yang tidak berbahasa Arab, sehingga mereka terhindar dari kesalah-kesalahan pengucapan dan dapat membaca dengan fasih. Ilmu ini mula-mula disusun oleh Abul Aswad Ad-Duali, atas nasehat Ali bin Abi Thalib.

Kemudian ilmu ini berkembang di Bashrah dan menjadi luas pembahasannya, sehingga banyak ulama dan ahli-ahli bahasa yang mengarang kitab-kitab nahwu, diantaranya adalah Abu Ishaq Al-Hadhrami yang wafat tahun 117 H, Isa bin Umar yang wafat tahun 149 H. pengarang kitab Al Jaami’ dan Al Ikmal: Al Khalil bin Ahmad, Sibawaihi, Abu Amir bin Al-Ala’ yang wafat tahun 154 H. dan Al-Ahfasy, murid Sibawaihi, ilmu Nahwu ini berkembang pula di Kufah yang dipelopori oleh Mu’adz Al-Harra’, Abu ja’far Ar-Ruasi dan kedua murid-muridnya Al-Kisai dan Al-Farra’, sehingga terjadilah dua aliran dalam ilmu Nahwu ini, yaitu aliran Bashrah dan aliran Kufah. Akhirnya kedua aliran ini bertemu di Baghdad, pusar pemerintahan Abbasiyah masing-masing dibahas oleh Ibnu Qutaibah dan Hanifah Al-Dinauri.[6]

  1. Balaghah

Pada pereiode Abasiyah Mereka pula menyusun ilmu Balaghah yang mencakup ilmu Bayan, Ma’ani dan Badi’ untuk menjelaskan keistimewaan dan keindahan susunan bahasa dan segi-segi bahasa Al Qur’an. Ilmu ini disusun setelah selesai mengarang Nahwu dan Sharaf. Kitab yang mula-mula dikarang dalam ilmu Bayan ialah kitab Majazul Qur’an oleh Ubaidah, murid Al-Khalil. Kemudian disusul oleh beberapa ulama. Dalam kitab Al Ma’ani, kitab I’jaazul Qur’an yang dikarang oleh Al-Jahizh dan dalam ilmu Badi’ kitab yang dikarang oleh Ibnu Mu’taz dan Qudamah bin Ja’far. Kemudian berturut-turut ulama mengarang bermacam-macam kitab dalam ilmu Balaghah sampai muncullah seorang ahli Balaghah yang termasyhur yaitu Abul Qadir Al-Jurjani yang mengarang kitab Dalailil I’jaz dalam ilmu Ma’ani dan kitab Asrarul Balaghah dalam ilmu Bayan dan Asakkaki yang mengarang kitab Miftahul Ulum yang mencakup segala masalah dalam ilmu Balaghah.[7]

  1. Ilmu Bahasa

Untuk memelihara pengertian kata-kata dalam Al-Qur’an mereka mengarang kamus bahasa Arab. Pada mulanya kamus-kamus ini hanya merupakan kitab-kitab kecil yang mengupas bermacam-macam kata, seperti kata-kata yang berhubungan dengan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda. Kemudian muncullah Al-Khalil yang mengumpulkan kata-kata bahasa Arab dalam suatu kitab dan menyusunnya berdasar huruf-huruf yang dimulai dengan huruf ‘ain, karena itu kitab ini disebut Kitabul ‘ain. Barulah kemudian dikarang kamus yang tersusun menurut huruf  hijaiyah oleh Abu Bakar bin Duraid yang dinamakan Al Jamharah. Lalu timbullah bermacam-macam kamus yang dikarang ahli-ahli bahasa, diantaranya: Asd-Shihah yang dikarang oleh Al Jauhari, Al-Muhkam yang dikarang oleh Ibnu Syayidih, Al-Muhith yang dikarang oleh Ash Shahib bin ‘Ibad, An-Nihayah oleh Ibnu Atsir, Lisanul Arab oleh Ibnu Muqarran.

Adapun Periode perkembangan dalam sastra Arab dibagi kedalam enam periode :

  1. Periode Jahiliyah : Sejak dua abad atau satu setengah abad sebelum islam hingga masa dimana islam muncul. Pada periode ini terdapat beberapa jenis Natsr, diantaranya: Khutbah, Wasiat, Hikmah dan Matsal.
  • Khutbah: Yaitu serangkaian perkataan yang jelas dan lugas yang disampaikan kepada khalayak ramai dalam rangka menjelaskan suatu perkara penting.

Sebab-sebab munculnya khutbah pada periode Jahiliyah

  1. Banyaknya perang antar kabilah.
  2. Pola hubungan yang ada pada masyarakat Jahiliyyah seperti saling mengucapkan selamat, belasungkawa dan saling memohon bantuan perang.
  3. Kesemrawutan politik yang ada kala itu.
  4. Menyebarnya buta huruf, sehingga komunikasi lisan lebih banyak digunakan daripada tulisan.
  5. Saling membanggakan nasab dan adat istiadat.

Ciri khasnya

  1. Ringkasnya kalimat.
  2. Lafaznya yang jelas.
  3. Makna yang mendalam.
  4. Sajak (berakhirnya setiap kalimat dengan huruf yang sama).
  5. Sering dipadukan dengan syair, hikmah dan matsal.
  • Wasiat: Yaitu nasihat seorang yang akan meninggal dunia atau akan berpisah kepada seorang yang dicintainya dalam rangka permohonan untuk mengerjakan sesuatu.

Wasiat memiliki banyak persamaan dengan khutbah hanya saja umumnya wasiat lebih ringkas.

  • Hikmah: Yaitu kalimat yang ringkas yang menyentuh yang bersumber dari pengalaman hidup yang dalam, didalamnya terdapat ide yang lugas dan nasihat yang bermanfaat.

Contoh_Hikmah:

آفة الرأي الهوى

“Perusak akal sehat manusia adalah hawa nafsunya.”

مصارع الرجال تحت برو ق الطمع

“Kehancuran seorang lelaki terletak dibawah kilaunya ketamakan”

  • Matsal: Yaitu kalimat singkat yang diucapkan pada keadaan atau peristiwa tertentu, digunakan untuk menyerupakan keadaan atau peristiwa tertentu dengan keadaan atau peristiwa asal dimana matsal tersebut diucapkan.

Contoh Matsal :

سبق السيف العذل

“Pedang telah mendahului celaan.”

Bermakna “nasi sudah menjadi bubur” dimana celaan tidak akan mampu merubah kejadian yang telah terjadi.

  • Syair: Dalam kehidupan masyarakat jahiliyah syair memiliki kedudukan yang penting dan pengaruh yang kuat sehingga masing-masing kabilah saling berbangga dengan kemunculan seorang penyair handal dari kalangan mereka, mereka pun kerap kali mengadakan acara khusus untuk menyaksikan dan menikmati syair-syair tersebut.

Jenis-jenis syair pada masa jahiliyah :

  1. Al-Madh atau pujian.
  2. Al-Hija’ atau cercaan.
  3. Al-Fakhr atau membangga.
  4. Al-Hamaasah atau semangat yakni untuk membangkitkan semangat ketika ada suatu peristiwa semacam perang atau membangun sesuatu
  5. Al-Ghozal atau ungkapan cinta bagi sang kekasih
  6. Al-I’tidzar atau permohonan maaf.
  7. Ar-Ritsa’ atau belasungkawa
  8. Al-Washf atau pemerian yaitu penjelasan perhadap sesuatu dengan sangat simbolistik dan ekspresionistik
  • Al-Mu’allaqot Adalah Qasidah panjang yang indah yang diucapkan oleh para penyair jahiliyah dalam berbagai kesempatan dan tema. Sebagian Al-Mu’allaqot ini diabadikan dan ditempelkan didinding-dinding Ka’bah pada masa Jahiliyah. Dinamakan dengan Al-Mu’allaqot (Kalung) karena indahnya syair-syair tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita[8].
  1. Periode awal Islam : Sejak munculnya islam hingga berakhirnya kepemimpinan Khulafa’urrasyidin tahun 40 H.
  2. Periode Daulah Umayyah : Sejak berdirinya Dinasti Umayyah tahun 40 H hingga masa keruntuhannya tahun 132 H.
  3. Periode Daulah Abbasiyah : Sejak berdirinya Dinasti Abbasiyah tahun 132 H hingga masa keruntuhannya akibat serangan pasukan Tatar tahun 656 H.
  4. Periode Keruntuhan: Periode ini dibagi dua fase yaitu sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah tahun 656 H dan ketika Dinasti Utsmaniyyah menguasai Kairo pada tahun 923 H dan berakhir hingga runtuhnya Dinasti Utsmaniyyah pada awal abad ketiga belas hijriah.
  5. Era baru: Ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan kebangkitan islam dibeberapa negara arab pada awal abad ketiga belas hijriah hingga saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannnya,Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet II 2004.

Elsobirin88, Program-belajar/arabic-for-all/91-sekilas (online)  http://belajarislam.com/elsobirin88/Tuesday/Mar 09th/ di akses 24 Maret 2010

Ichsanmufti, Sejarah-Perkembangan-Sastra-Arab-bag2/, (online), http://Ichsanmufti.wordpress.com/2006/12/04/ diakses 24 Maret 2010

Taufiqurrochman, sejarah-perkembangan-sastra-arab-jahiliyah/ (online)  http://Taufiqurrochman.wordpress.com/2009/03/10/ di akses 24 Maret 2010


[1] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 1

[2] ibid., h. 6

[3]Taufiqurrochman, sejarah-perkembangan-sastra-arab-jahiliyah/ (online)  http://Taufiqurrochman.wordpress.com/2009/03/10/ di akses 24 Maret 2010

[4]Elsobirin88, Program-belajar/arabic-for-all/91-sekilas (online)  http://belajarislam.com/elsobirin88/Tuesday/Mar 09th/ di akses 24 Maret 2010

[5] Moch. Anwar, ilmu Sharaf, (Bandung; Sinar Baru Algensindo, Cet. XV 2009), h. Iii

[6]Ichsanmufti, Sejarah-Perkembangan-Sastra-Arab-bag2/, (online), http://Ichsanmufti.wordpress.com/2006/12/04/ diakses 24 Maret 2010

[7] Ibid

[8][8]Taufiqurrochman, sejarah-perkembangan-sastra-arab-jahiliyah/ (online)  http://Taufiqurrochman.wordpress.com/2009/03/10/ di akses 24 Maret 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!