TARIKH LUGAH AL- ARABIYAH (PERIODE)

PERIODE-PERIODE PERKEMBANGAN

ILMU BAHASA ARAB

Di Persembahkan Pada Mata Kuliah Tarikh Adab

Dosen Pengampuh

Damhuri M.Ag

OLEH

ZUBAIR AHMAD

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI(IAIN)

SULTAN AMAI GORONTALO

2010


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkankan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia (Ghazzawi, 1992). Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara.[1] Sejak bahasa Arab yang tertuang di dalam Al-Qur’an didengungkan hingga kini, semua pengamat baik barat maupun oorang muslim Arab menganggapnya sebagai bahasa yang memiliki standar ketinggian dan keelokan lingguistik yang tertinggi, yang tiada taranya.[2]

Namun terlepas dari hal tersebut kita perlu mengetahui sejarah perkembangan bahasa Arab, tentang periode-periode perkembangan bahasa Arab. Suatu rentang waktu perjalanan bahasa Arab, tentang kemunduran serta kebangkitan kembali bahasa Arab. Selanjutnya kita harus mengetahui ilmu-ilmu yang lahir dalam perjalanan dan petualangan bahasa Arab menjelajahi pergantian periode-periode di tengah-tengah percampuran bahasa dan budaya.

Lebih lanjut lagi penulis ingin menyentil sedikit tentang perkembangan sastra Arab pada berbagai periode perkembangannya. Tentang ilmu-ilmu yang telah ada pada periode-periode perkembangannya.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari uraian singkat di atas penulis mengangkat beberapa permasalahan yang akan dibahas :

  1. Apa saja periode-periode perkembangan bahasa Arab
  2. Ilmu-ilmu apa yang lahir dari pergantian periode-periode

BAB II

PEMBAHASAN

Para ahli bahasa mengelompokkan bahasa-bahasa menjadi beberapa rumpun, Max Muller membaginya menjadi tiga rumpun ; yaitu indo-eropa, semit hemit dan turania. Bahasa arab merupakan salah satu dari bahasa semit. Imil Badi’ Ya’qup membagi bahasa semit kepada bahasa timur, yang meliputi bahasa-bahasa Asyiria-Babionia dan bahasa-bahasa barat terdiri Aramiyah, Kan’aniyah dan Arabiyah. Kedatangan Islam mempercepat proses penyatuan bahasa Arab, disamping juga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan dan mental bahasa Arab.

  1. A. Periode-periode Perkembangan Bahasa Arab

Dalam sejarah perkembangan bahasa Arab, dapat di klasifikasikan ke dalam beberapa periode, antara lain :

  1. Periode Jahiliyah. Periode ini munculnya nilai-nilai standarisari pembentukan bahasa arab fusha, dengan adanya beberapa kegiatan penting yang telah menjadi tradisi masyarakat Mekah. Kegiatan tersebut berupa festifal syair-syair arab yang diadakan di pasar Ukaz, Majanah, Zul Majah. yang akhirnya mendorong tersiar dan meluasnya bahasa arab, yang pada akhirnya kegiatan tersebut dapat membentuk stsndarisasi bahasa arab fusha dan kesusasteraannya.[3]
  2. Periode Permulaan Islam. Turunnya Al-Quran dengan membawa kosa kata baru dengan jumlah yang sangat luar biasa banyaknya menjadikan bahasa Arab sebagai suatu bahasa yang telah sempurna baik dalam mufradat, makna, gramatikal dan ilmu –ilmu lainnya. Adanya perluasan wilayah-wilayah kekuasaan islam sampai berdirinya daulah umayah. Setelah berkembang kekuasaan Islam, maka orang-orang islam arab pindah ke negeri baru, sampai masa Khulafaa Al-Al-Rasyidiin
  3. Periode bani Umayah. Terjadinya percampuran orang-orang arab dengan penduduk asli akibat adanya perluasan wilayah islam. Adanya upaya-upaya orang arab untuk menyebarkan bahasa arab ke wilayah melalui akspansi yang beradab. Melakukan arabisasi dalam berbagai kehidupan, sehingga penduduk asli mempelajari bahasa arab sebagai bahasa agama dan pergaulan. Pada mulanya bahasa Arab dapat bertahan dengan kuat terhadap kemunduran yang mulai terasa pada akhir-akhir masa Bani Umayyah, karena tampuk pemerintahan, seperti jabatan panglima-panglima, gubernur-gubernur dan kedudukan penting lainnya masih dipegang oleh orang Arab, yang bahasanya tetap bahasa (fasih) murni dan bermutu, di tambah pula mereka sangat fanatik terhadap bangsa dan bahasanya.

Dimasa itu seorang pemimpin yang menyimpang dari tata bahasa yang fasih walaupun sedikit saja sudah dianggap rendah dan hina. Tiap-tiap pemimpin, baik dia pemimpin politik maupun pemimpin perang atau pemimpin sosial, semenjak dari khalifah sampai kepala daerah, adalah orang-orang yang ahli dalam bahasa. Kefasihan dan ketinggian mutu bahasa ini bukan saja dimiliki oleh para pemimpin, tetapi juga dimiliki umumnya bangsa Arab, karena perasaan bangga terhadap keturunan dan nasab serta perasaan bahwa mereka adalah golongan yang tertinggi dan teristimewa, semangat mendalam dalam jiwa mereka (meskipun prinsip ini bertentangan dengan agama Islam) sehingga mereka enggan bergaul dengan orang yang bukan bangsa Arab dan merasa rendah bila ikut bekerja bersama-sama orang ‘ajam (bukan orang Arab).

  1. Periode bani Abasiyah. Pemerintahan Abasiyah berkeyakinan bahwa kejayaan pemerintahannya dapat bertahan bila bergantung kepada kemajuan agama islam dan bahasa arab, kemajuan agama islam dipertahankan dengan cara melaksanakan kegiatan pembedahan Al-Quran terhadap cabang-cabang disiplin ilmu pengetahuan baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Bahasa Arab Baduwi yang bersifat alamiah tetap dipertahankan dan dipandang sebagai bahasa yang bermutu tinggi dan murni yang harus dikuasai oleh putra-putra bani Abas. Pada abad ke empat H bahasa arab fusha sudah menjadi bahasa tulisan untuk keperluan administrasi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan bahas Arab mulai dipelajari melalui buku-buku ,sehingga bahasa fusha berkembang dan meluas. Namun dengan berdirinya kerajaan Bani Abbas dapat dikatakan karena bantuan dari orang-orang Persia, terutama atas bantuan Abu Muslim Al-Khurasani, maka sebagai balas jasa, diserahkanlah kepada mereka beberapa jabatan yang penting dalam Negara. Dan dengan berangsur-angsur bertambah banyaklah diantara mereka yang menduduki posisi-posisi yang tinggi seperti gubernur, panglima dan menteri.

Akhirnya tidak sampai satu abad semenjak berdirinya kerajaan Bani Abbas, semua kedudukan yang penting, kecuali pangkat khalifah telah dipegang orang Persia. Oleh karena orang yang memegang kekuasaan bukan orang Arab lagi, maka hilanglah perasaan bangga terhadap nasab dan keturunan, atau perasaan bahwa mereka adalah golongan yang tinggi dan mulia. Dengan ber-asimilasinya orang-orang Arab kedalam masyarakat orang Persia mulailah bahasa Arab mengalami kemunduran. Apalagi pemimpin-pemimpin yang berkuasa bukan orang Arab. Sehingga timbullah suatu bahasa pasar yang tidak dapat dianggap sebagai bahasa Arab yang murni.

Hal ini menimbulkan kesadaran para ulama dan ahli bahasa Arab, sehingga mereka bangun serentak untuk mempertahankan bahasa Arab dari keruntuhannya. Dengan rusaknya bahasa Arab tentu tidak akan ada lagi yang dapat memahami Al-Qur’an Al-Karim, sedangkan Al-Qur’an itu adalah kitab suci yang harus selalu dipelihara dan diselidiki isi dan maknanya. Karena itu mereka merasa bahwa diatas pundak merekalah terletak kewajiban untuk memelihara Al-Qur’an dengan jalan mempertahankan kemurnian bahasa Arab.

Untuk itu mereka mulai mengarang ilmu Nahwu atau Gramtika bahasa Arab agar bahasa Arab dapat dipelajari dengan baik oleh umat yang tidak berbahasa Arab, sehingga mereka terhindar dari kesalah-kesalahan pengucapan dan dapat membaca dengan fasih.

Mereka pula menyusun ilmu Balaghah yang mencakup ilmu Bayan, Ma’ani dan Badi’ untuk menjelaskan keistimewaan dan keindahan susunan bahasa dan segi-segi bahasa Al Qur’an. Ilmu ini disusun setelah selesai mengarang Nahwu dan Sharaf. Untuk memelihara pengertian kata-kata dalam Al-Qur’an mereka mengarang kamus bahasa Arab

  1. Priode ke lima. Sesudah abad ke 5 H bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa politik dan adminisrasi pemerintahan, tetapi hanya menjadi bahasa agama. Hal ini terjadi setelah dunia arab terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non arab “ Bani Saljuk” yang mendeklarasikan bahasa Persia sebagai bahasa resmi negara islam dibagian timur, sementara Turki Usmani yang menguasai dunia arab yang lainnya mendeklarasikan bahwa bahasa Turki sebagai bahasa administrasi pemerintahan. Sejak saat itu sampai abad ke7 H bahasa Arab semakin terdesak.
  2. Priode bahasa arab di zaman baru. Bahasa arab bangkit kembali yang dilandasi adanya upaya-upaya pengembangan dari kaum intelektual Mesir yang mendapat pengaruh dari golongan intelektual Eropa yang datang bersama serbuan Napoleon. Maka dijadikanlah Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar disekolah, Waktu-waktu perkuliahan disampaikan dengan bahasa Arab. Munculnya gerakan menghidupkan warisan budaya lama dan menghidupkan penggunaan kosakata asli yang berasal dari bahasa fusha. Adanya gerakan yang telah berhasil mendorong penerbit dan percetakan dinegara-negara arab untuk mencetak kembali buku-buku sastra arab dari segala zaman dalam jumlah yang sangat besar dan berhasil pula menerbitkan buku-buku dan kamus bahasa arab. Munculnya kesadaran dari intelektual Arab yang mempertahankan bahasa Arab dari berbagai kritikan terhadap bahasa arab yang datang dari non Arab atau dari orang Arab sendiri untuk mempertahankan bahasa Arab, tidak hanya sebagai bahasa agama, melainkan sebagai bahasa nasional dan diwujudkan melalui :
    1. Adanya usaha-usaha pembinaan dan pengembangan bahasa arab seperti Majma’ al lughah al-arabiyyah th 1934 di Mesir. Tujuannya untuk memelihara keutuhan dan kemurnian bahasa fusha dan melakukan usaha – usaha pengenbangan agar menjadi bahasa yang dinamis, maju dan mampu memenuhi tuntutan kemajuan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.
    2. Mendirikan lembaga pendidikan khususnya pengajaran bahasa arab seperti Al -Azhar jurusan bahasa arab. Perhatian bangsa arab tidak hanya terjadi di Mesir tetapi terjadi pula di negara arab lainnya.[4]
    3. B. Ilmu-Ilmu Bahasa Arab Yang Lahir Dari Pergejelokan Periode
      1. Nahwu dan Sharaf

Ilmu Sharaf induk segala ilmu, dan ilmu nahwu bapaknya.[5] Ilmu Nawu dan Sharaf di karang pada periode Abasiyah dengan berdasarkan alasan bahwa telah terjadi berbagai kesalahan dalam kaidah-kaidah bahasa Arab, dengan harapan agar bahasa Arab dapat dipelajari dengan baik oleh umat yang tidak berbahasa Arab, sehingga mereka terhindar dari kesalah-kesalahan pengucapan dan dapat membaca dengan fasih. Ilmu ini mula-mula disusun oleh Abul Aswad Ad-Duali, atas nasehat Ali bin Abi Thalib.

Kemudian ilmu ini berkembang di Bashrah dan menjadi luas pembahasannya, sehingga banyak ulama dan ahli-ahli bahasa yang mengarang kitab-kitab nahwu, diantaranya adalah Abu Ishaq Al-Hadhrami yang wafat tahun 117 H, Isa bin Umar yang wafat tahun 149 H. pengarang kitab Al Jaami’ dan Al Ikmal: Al Khalil bin Ahmad, Sibawaihi, Abu Amir bin Al-Ala’ yang wafat tahun 154 H. dan Al-Ahfasy, murid Sibawaihi, ilmu Nahwu ini berkembang pula di Kufah yang dipelopori oleh Mu’adz Al-Harra’, Abu ja’far Ar-Ruasi dan kedua murid-muridnya Al-Kisai dan Al-Farra’, sehingga terjadilah dua aliran dalam ilmu Nahwu ini, yaitu aliran Bashrah dan aliran Kufah. Akhirnya kedua aliran ini bertemu di Baghdad, pusar pemerintahan Abbasiyah masing-masing dibahas oleh Ibnu Qutaibah dan Hanifah Al-Dinauri.[6]

  1. Balaghah

Pada pereiode Abasiyah Mereka pula menyusun ilmu Balaghah yang mencakup ilmu Bayan, Ma’ani dan Badi’ untuk menjelaskan keistimewaan dan keindahan susunan bahasa dan segi-segi bahasa Al Qur’an. Ilmu ini disusun setelah selesai mengarang Nahwu dan Sharaf. Kitab yang mula-mula dikarang dalam ilmu Bayan ialah kitab Majazul Qur’an oleh Ubaidah, murid Al-Khalil. Kemudian disusul oleh beberapa ulama. Dalam kitab Al Ma’ani, kitab I’jaazul Qur’an yang dikarang oleh Al-Jahizh dan dalam ilmu Badi’ kitab yang dikarang oleh Ibnu Mu’taz dan Qudamah bin Ja’far. Kemudian berturut-turut ulama mengarang bermacam-macam kitab dalam ilmu Balaghah sampai muncullah seorang ahli Balaghah yang termasyhur yaitu Abul Qadir Al-Jurjani yang mengarang kitab Dalailil I’jaz dalam ilmu Ma’ani dan kitab Asrarul Balaghah dalam ilmu Bayan dan Asakkaki yang mengarang kitab Miftahul Ulum yang mencakup segala masalah dalam ilmu Balaghah.[7]

  1. Ilmu Bahasa

Untuk memelihara pengertian kata-kata dalam Al-Qur’an mereka mengarang kamus bahasa Arab. Pada mulanya kamus-kamus ini hanya merupakan kitab-kitab kecil yang mengupas bermacam-macam kata, seperti kata-kata yang berhubungan dengan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda. Kemudian muncullah Al-Khalil yang mengumpulkan kata-kata bahasa Arab dalam suatu kitab dan menyusunnya berdasar huruf-huruf yang dimulai dengan huruf ‘ain, karena itu kitab ini disebut Kitabul ‘ain. Barulah kemudian dikarang kamus yang tersusun menurut huruf  hijaiyah oleh Abu Bakar bin Duraid yang dinamakan Al Jamharah. Lalu timbullah bermacam-macam kamus yang dikarang ahli-ahli bahasa, diantaranya: Asd-Shihah yang dikarang oleh Al Jauhari, Al-Muhkam yang dikarang oleh Ibnu Syayidih, Al-Muhith yang dikarang oleh Ash Shahib bin ‘Ibad, An-Nihayah oleh Ibnu Atsir, Lisanul Arab oleh Ibnu Muqarran.

Adapun Periode perkembangan dalam sastra Arab dibagi kedalam enam periode :

  1. Periode Jahiliyah : Sejak dua abad atau satu setengah abad sebelum islam hingga masa dimana islam muncul. Pada periode ini terdapat beberapa jenis Natsr, diantaranya: Khutbah, Wasiat, Hikmah dan Matsal.
  • Khutbah: Yaitu serangkaian perkataan yang jelas dan lugas yang disampaikan kepada khalayak ramai dalam rangka menjelaskan suatu perkara penting.

Sebab-sebab munculnya khutbah pada periode Jahiliyah

  1. Banyaknya perang antar kabilah.
  2. Pola hubungan yang ada pada masyarakat Jahiliyyah seperti saling mengucapkan selamat, belasungkawa dan saling memohon bantuan perang.
  3. Kesemrawutan politik yang ada kala itu.
  4. Menyebarnya buta huruf, sehingga komunikasi lisan lebih banyak digunakan daripada tulisan.
  5. Saling membanggakan nasab dan adat istiadat.

Ciri khasnya

  1. Ringkasnya kalimat.
  2. Lafaznya yang jelas.
  3. Makna yang mendalam.
  4. Sajak (berakhirnya setiap kalimat dengan huruf yang sama).
  5. Sering dipadukan dengan syair, hikmah dan matsal.
  • Wasiat: Yaitu nasihat seorang yang akan meninggal dunia atau akan berpisah kepada seorang yang dicintainya dalam rangka permohonan untuk mengerjakan sesuatu.

Wasiat memiliki banyak persamaan dengan khutbah hanya saja umumnya wasiat lebih ringkas.

  • Hikmah: Yaitu kalimat yang ringkas yang menyentuh yang bersumber dari pengalaman hidup yang dalam, didalamnya terdapat ide yang lugas dan nasihat yang bermanfaat.

Contoh_Hikmah:

آفة الرأي الهوى

“Perusak akal sehat manusia adalah hawa nafsunya.”

مصارع الرجال تحت برو ق الطمع

“Kehancuran seorang lelaki terletak dibawah kilaunya ketamakan”

  • Matsal: Yaitu kalimat singkat yang diucapkan pada keadaan atau peristiwa tertentu, digunakan untuk menyerupakan keadaan atau peristiwa tertentu dengan keadaan atau peristiwa asal dimana matsal tersebut diucapkan.

Contoh Matsal :

سبق السيف العذل

“Pedang telah mendahului celaan.”

Bermakna “nasi sudah menjadi bubur” dimana celaan tidak akan mampu merubah kejadian yang telah terjadi.

  • Syair: Dalam kehidupan masyarakat jahiliyah syair memiliki kedudukan yang penting dan pengaruh yang kuat sehingga masing-masing kabilah saling berbangga dengan kemunculan seorang penyair handal dari kalangan mereka, mereka pun kerap kali mengadakan acara khusus untuk menyaksikan dan menikmati syair-syair tersebut.

Jenis-jenis syair pada masa jahiliyah :

  1. Al-Madh atau pujian.
  2. Al-Hija’ atau cercaan.
  3. Al-Fakhr atau membangga.
  4. Al-Hamaasah atau semangat yakni untuk membangkitkan semangat ketika ada suatu peristiwa semacam perang atau membangun sesuatu
  5. Al-Ghozal atau ungkapan cinta bagi sang kekasih
  6. Al-I’tidzar atau permohonan maaf.
  7. Ar-Ritsa’ atau belasungkawa
  8. Al-Washf atau pemerian yaitu penjelasan perhadap sesuatu dengan sangat simbolistik dan ekspresionistik
  • Al-Mu’allaqot Adalah Qasidah panjang yang indah yang diucapkan oleh para penyair jahiliyah dalam berbagai kesempatan dan tema. Sebagian Al-Mu’allaqot ini diabadikan dan ditempelkan didinding-dinding Ka’bah pada masa Jahiliyah. Dinamakan dengan Al-Mu’allaqot (Kalung) karena indahnya syair-syair tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita[8].
  1. Periode awal Islam : Sejak munculnya islam hingga berakhirnya kepemimpinan Khulafa’urrasyidin tahun 40 H.
  2. Periode Daulah Umayyah : Sejak berdirinya Dinasti Umayyah tahun 40 H hingga masa keruntuhannya tahun 132 H.
  3. Periode Daulah Abbasiyah : Sejak berdirinya Dinasti Abbasiyah tahun 132 H hingga masa keruntuhannya akibat serangan pasukan Tatar tahun 656 H.
  4. Periode Keruntuhan: Periode ini dibagi dua fase yaitu sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah tahun 656 H dan ketika Dinasti Utsmaniyyah menguasai Kairo pada tahun 923 H dan berakhir hingga runtuhnya Dinasti Utsmaniyyah pada awal abad ketiga belas hijriah.
  5. Era baru: Ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan kebangkitan islam dibeberapa negara arab pada awal abad ketiga belas hijriah hingga saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannnya,Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet II 2004.

Elsobirin88, Program-belajar/arabic-for-all/91-sekilas (online)  http://belajarislam.com/elsobirin88/Tuesday/Mar 09th/ di akses 24 Maret 2010

Ichsanmufti, Sejarah-Perkembangan-Sastra-Arab-bag2/, (online), http://Ichsanmufti.wordpress.com/2006/12/04/ diakses 24 Maret 2010

Taufiqurrochman, sejarah-perkembangan-sastra-arab-jahiliyah/ (online)  http://Taufiqurrochman.wordpress.com/2009/03/10/ di akses 24 Maret 2010


[1] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 1

[2] ibid., h. 6

[3]Taufiqurrochman, sejarah-perkembangan-sastra-arab-jahiliyah/ (online)  http://Taufiqurrochman.wordpress.com/2009/03/10/ di akses 24 Maret 2010

[4]Elsobirin88, Program-belajar/arabic-for-all/91-sekilas (online)  http://belajarislam.com/elsobirin88/Tuesday/Mar 09th/ di akses 24 Maret 2010

[5] Moch. Anwar, ilmu Sharaf, (Bandung; Sinar Baru Algensindo, Cet. XV 2009), h. Iii

[6]Ichsanmufti, Sejarah-Perkembangan-Sastra-Arab-bag2/, (online), http://Ichsanmufti.wordpress.com/2006/12/04/ diakses 24 Maret 2010

[7] Ibid

[8][8]Taufiqurrochman, sejarah-perkembangan-sastra-arab-jahiliyah/ (online)  http://Taufiqurrochman.wordpress.com/2009/03/10/ di akses 24 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: